Oleh: polrestimur | 15 April 2010

BENTROK SAT POL PP DAN MASYARAKAT KOJA


Bentrok Priok ini mengakibatkan dua orang tewas, pulugan warga dan petugas mengalami luka-luka, Rabu. Korban tewas adalah dari warga dan petugas Satpol PP.

Akibat bentrokan itu, Wakil Walikota Jakut, Atma Sanjaya memerintahkan pasukan agar ditarik mundur .
Hal ini dilakukan karena selain memakan korban jiwa, juga banyaknya massa dari berbagai ormas yang datang ke lokasi makam mbah Priok.

Selain itu desakan, juga dilontarkan oleh anggotan DPRD DKI Andika, Ida Mahmuda, Maman Suparman, Taufiqurrahman. “Saya minta pasukan tarik mundur dikhawatirkan akan memakan korban,”kata Atma.

Sementara itu dalam perundingan anatara anggota DPRD, Wakil Walikota dan Dandim 05/2 masalah ini akan dibawa ke pengadilan. Sementara itu penertiban minta diundur.

Diberitakann sebekumknya, 1800 personil gabungan Dinas Trantib DKI dan sudin trantib Jakut menertibkan bangunan dan gapura mbah Priok Koja Jakut, serta bantuan dari TNI Polri.

Dilokasi saat ini dalam pengepungan petugas didepan gapura mbah Priok mendapat perlawanan dari massa. Terjadi aksi lempar batu dan dan bom molotov oleh simpatisan makam.

Sementara itu sudah lebih 30 petugas Satpol PPpol pp mengalamai luka-luka akibat bentrokan itu. Saklah satru warga tewas. Korban yang luka dilarikan ke RS Koja, Jakarta Utara.

Bentrok Priok Bukti Penguasa Tak Hormati Rakyat

“Apa yang terjadi di Tanjungpriok hari ini semakin menjelaskan kepada kita, bahwa elite penguasa di negeri ini tidak bisa menghargai nilai-nilai yang berkembang dan dihormati masyarakatnya,” kata Adhie di Jakarta, Rabu (14/4).

Ia mengungkapkan pengosongan paksa areal makam Mbah Priok dengan cara-cara kekerasan tidak saja melukai rakyat. Namun juga mengoyak nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat. “Bagi masyarakat, makam bukan hanya sekedar kuburan. Apalagi makam seorang tokoh yang sangat dihormati seperti Mbah Priok,” kata Adhie dengan gemas.

Menurut Adhie makam mbah Priok mempunyai nilai tersendiri bagi masyarakat. Karena itu tambahnya jika penguasa sudah tidak menghormati nilai-nilai dalam masyarakat bagaimana akan bisa menghormati hak-hak masyarakat yang dipimpinnya.

“Jadi kalau nilainya saja tidak dihormati, bagaimana mereka (penguasa) menghormati hak-hak masyarakatnya,” tutur mantan jubir mendiang Presiden KH Abdurrahman Wahid ini.

Adhie menjelaskan dalam persoalan penghormatan atas nilai-nilai dalam masyarakat seharusnya bisa mencontoh mantan Presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Gus Dur tambahnya tidak saja menghormati nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat tetapi lebih dari itu.

Karena itulah, Gus Dur selalu melekat di hati masyarakat Indonesia bukan saja sebagai tokoh pluralisme bangsa tapi juga tokoh yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: